TEORI-TEORI BELAJAR

para pakar pendidikan memiliki perbedaan pandangan mengenai arti belajar. Pengkajian ilmu filsafat dan psikologi pembelajaran yang telah dikaji oleh para pakar pendidikan ini, melahirkan teori-teori belajar yang berbeda ; diantaranya terdapat tiga teori belajar yaitu teori belajar behavirositik, teori belajar kognitif dan teori belajar konstruktivistik.

1. Teori belajar behavioristic
Pada teori ini belajar merupakan perubahan perilaku. Seorang dianggap belajar sesuatu jika ia telah mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Teori ini juga disebut dengan S-R (Stimulus-Respon). Dimana belajar diartikan sebagai respon siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru. Respon itu merupakan bentuk perilaku yang dianggap sebagai hasil belajar itu sendiri. Sedangkan stimulus merupakan upaya berupa rangsangan yang diberikan oleh guru terhadap peserta didik. Maka dengan demikian, kegiatan pembelajaran menurut teori ini adalah aktivitas pemberian stimulus dan respon terhadapnya.
Adapun pembahasan secara spesifik mengenai teori ini sudah saya tulis dengan ringkas pada tulisan berjudul “TEORI-TEORI BELAJAR ‘teori behavioristik’ ”

2. Teori belajar kognitif
Pada teori ini belajar merupakan terbentuknya pengetahuan dan pemahaman manusia yang dapat diamati dan diukur yang mana proses pembentukan pengetahuan tersebut sesuai dengan perkembangan pribadi manusia baik secara fisik maupun psikis dan kegiatan belajar terjadi sesuai dengan pola tahap-tahap perkembangan tertentu dan umur seseorang.
Seorang tokoh psikologi koginitif bernama piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat, yaitu a. Tahap sensorimotor (umur 0-2 tahun)

Kemampuan yang dimiliki ;

1. Melihat dirinya sendiri sebagai makhluk yang berbeda dengan objek sekitarnya

2. Mencari rangsangan melalui sinar lampu dan suara

3. Suka memperhatikan sesuatu lebih lama

4. Mendefinisikan sesuatu dengan memaniupulasinya

5. Memperhatikan objek sebagai hal yang tetap, lalu ingin merubah tempatnya

b. Tahap preoperasional (umur 2-7/8 tahun)
Kemampuan yang dimiliki ;

  1. Self counter nya sangat menonjol
  2. Dapat mengklasifikasikan objek pada tingkat dasar secara tunggal dan mencolok
  3. Tidak mampu memusatkan perhatian pada objek-objek yang berbeda
  4. Mampu mengumpulkan barang-barang menurut kriteria, termasuk kriteria yang benar
  5. Dapat menyusun benda-benda secara berderet, tetapi tidak dapat menjelaskan perbedaan antara deretan

c. Tahap operasional konkret (umur 7 atau 8-11 atau 12 tahun)
Anak telah memilki kecakapan berfikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret. Dan masih memiliki masalah mengenai berpikir abstrak

d. Tahap operasional formal (umur 11/12-18 tahun)
Kemampuan yang dimiliki ;

  1. Bekerja secara efektif dan sistematis
  2. Menganalisis secara kombinasi . misalnya C1 dan C2 menghasilkan R, anak dapat merumuskan beberapa kemungkinan
  3. Berfikir secara proporsional, yakni menentukan macam-macam proporsional tentang C1 dan C2, dan R misalnya.
  4. Piaget percaya bahwa sebagian remaja mencapai formal operations paling lambat pada usia 15 tahun. Tetapi berdasarkan penelitian maupun study selanjutnya menemukan behwa banyak siswa bahkan mahasiswa walaupun usianya telah melampaui, belum dapat melakukan formal-oprations.

Piaget beranggapan bahwa semakin tinggi tahap perkembangan kognitif seseorang, maka akan semakin teratur dan semakin abstrak cara berpikirnya.
Mengenai pendapat tokoh psikologi kognitif. Bruner memiliki perbedaan pendapat mengenai perkembangan kognitif seseorang, Bruner menyatakan bahwa perkembangan bahasa merupakan kunci perkembangan kognitif seseorang.

3. Teori belajar konstruktif Pada teori ini belajar merupakan mengkonstruksi pengetahuan. Maka kegiatan belajar dimaknai sebagai upaya membentuk pengetahuan dalam pribadi pelajar.
Hal ini dimaknai bahwa siswa itu menkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui aktivitas atau kegiatan yang dilakukannya. Aktivitas itu adalah mengamati objek yang dipelajari.
Teori ini menyatakan kegiatan belajar adalah aktivitas pembentukan pengetahuan melalui interaksi dengan objek kajian pengetahuan dan lingkungan.
Proses pembelajaran konstruktivistik memiliki ciri sebagai berikut ;

1. Kurikulum disajikan mulai dari keseluruhan menuju ke bagian-bagian, dan lebih mendekatkan pada konsep-konsep yang lebih luas

2. Pembelajaran lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide siswa

3. Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada sumber-sumber data primer dan manipulasi bahan

4. Siswa dipandang sebagai pemikir yang daoat memunculkan teori-teori tentang dirinya

5. Pengukuran proses dan hasil belajar siswa terjalin didalam kesatuan kegiatan pembelajaran, dengan cara guru mengamati hal-hal yang sedang dilakukan siswa, serta melalui tugas-tugas pekerjaan

6. Siswa-siswa banyak belajar dan bekerja dalam group process

Belajar dan Pembelajaran. Karya: Dr. C. Asri Budiningsih

Author:

Tempat/tanggal lahir : Pekanbaru, 29 Oktober 1997 Mahasiswi s1 Pendidikan bahasa arab UIN SUSKA Riau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s