Blog Feed

Langkah-langkah mendidik

Ahmad Tafsir menjelaskan hubungan pendidikan dengan pengajaran dalam gambar lingkaran ini. Terinspirasi dari gambar lingkaran ini maka saya mengambil point-point yang dipaparkan oleh Ahmad Tafsir dalam gambar ini sebagai bentuk upaya – upaya yang harus ada dalam pendidikan atau langkah-langkah mendidik

A : Lingkungan daerah pendidikan
B : Usaha pendidikan dalam bentuk pengajaran
C : Usaha pendidikan dalam bentuk pemberian contoh
D : Usaha pendidikan dalam bentuk pembiasaan
E : Usaha pendidikan dalam bentuk pemberian contoh
F : Usaha pendidikan dalam bentuk lain-lain

Pada lingkaran di atas dapat kita fahami :


Usaha dalam mendidik dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut.


Langkah pertama yaitu memilih dan menentukan lingkungan pendidikan anak. Kemudian dalam lingkungan pendidikan itu kita memberi pengajaran. Pemberian pengajaran bisa berupa nasehat, motivasi ataupun menceritakan kisah tokoh-tokoh teladan. Dalam pemberian pengajaran ini kita mesti memberikan contoh teladan yang sesuai dengan pengajaran yang kita berikan, pemberian contoh ini bersifat continue agar menjadi tabiat positif anak. Ketika anak melakukan perilaku yang positif saat itulah kita mesti memberikan penghargaan kepada anak berupa pujian ataupun pemberian hadiah

Jendela Jiwa

Jendela Jiwa

Selain menuntut ilmu dan beribadah.  Menggunakan indera dengan baik, juga merupakan salah satu cara mendidik hati.

Indera penglihatan dan pendengaran merupakan jendela jiwa

Maka, jagalah jendelamu. Bukalah jendelamu ketika udara diluar bagus. Namun Jika diluar udara tidak bagus maka tutupilah jendelamu

Sumber foto: Alfi Fathiyya

Pendidikan Kunci Perubahan

Sumber foto: kiblat. Net

Pendidikan Kunci Perubahan

Mengintip revolusi Jepang


Jepang bukanlah negara penemu. Namun, mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar dan cepat belajar. Mereka membawa pulang temuan-temuan barat, kemudian mereka pelajari, mereka bongkar dan mereka analisa. Dari usaha-usaha itu, mereka menciptkan sesuatu yang lebih baik daripada temuan barat


Jepang juga merupakan negara yang memiliki kesadaran bahwa pedang saja tidak cukup untuk membentuk perubahan (Yunsirno : Keajaiban Belajar). Mereka sadar bahwa pentingnya mengisi otak, karena zaman sudah berubah. Kita memang sedang dijajah, tapi kita tidaklah sadar. Karena penjajahan pada masa sekarang tidaklah lagi menggunakan pedang atau alat-alat tempur lainnya, melainkan menjajah dengan cara “mencuci otak”. Kesadaran ini membuat para samurai menyimpan pedangnya dan mempelajari buku-buku berkualitas.


Bahkan negara ini mendirikan suatu badan khusus yang bertugas meneliti buku-buku terbitan barat.


Kembali pada sejarah hancurnya Hirosima dan Nagasaki. Mori yang merupakan mentri pendidikan pada masanya, merupakan saksi dihancurkannya kota kelahirannya itu. ia percaya bahwa pendidikan adalah sebagai alat untuk mengejarnya. Saat Mori menjabat sebagai mentri pendidikan, ia berhasil menciptakan sistem pendidikan yang efektif dan maju.


Maka, tak heran bagi kita, mengapa setelah kejadian dihancurkannya dua kota ini mereka segara bangkit dari kehancuran dan dengan cepat negara ini sejajar dengan negara yang mengebom mereka. itu dikarenakan mereka memiliki semangat belajar.

Al-insanu wa an-nisyan

Salah seorang dosen fakultas tarbiyah dan keguruan UIN Suska Riau, Dr. Kadar M. Yusuf. M.Ag Menuliskan sebuah tulisan yang menjelaskan sebab adanya sifat lupa pada diri manusia yang ditinjau dari segi bahasa arab dalam buku psikologi qurani. Penjelasan ini beliau peroleh dari pakar bahasa dan tafsir yang telah beliau kaji.

“sebagian ahli bahasa berpendapat, bahwa kata al-insan dan an-nas berasal dari نسى yang berarti lupa. Kata al-insan menurutnya berasal dari insiyan, tetapi karena orang arab sering menggunakan kata tersebut maka huruf ى ( ya ) yang ada padanya dibuang sehingga menjadi insan. Abu Mansur seperti yang dirujuk oleh Ibn Manzhur, mengatakan “kata insan berasal dari kata insiyan dengan wazn if’ilan, yang terambil dari kata an-nisyan” pendapat ini sesuai dengan ungkapan Ibn ‘Abbas “manusia itu disebut dengan al-insan karena ia berjanji kemudian lupa”.
Quraish Shihab mengatakan, “kata insan terambil dari akar kata anasa yang berarti jinak, harmoni, dan tampak. Pendapat ini jika ditinjau dari sudut pandangan Alquran, lebih tepat dari pendapat yang mengatakan bahwa al-insan terambil dari kata nasiya (lupa) atau na’asa – yan’asu yang berarti berguncang
Jika makna-makna ini dikaitkan dengan potensi watak manusia maka semuanya (jinak, jelas, diketahui dan lupa) mengambarkan kondisi manusia.

Kedekatan pemaknaan insan dengan nisyan menjadikan insan memiliki sifat nisyan

TEORI-TEORI BELAJAR

para pakar pendidikan memiliki perbedaan pandangan mengenai arti belajar. Pengkajian ilmu filsafat dan psikologi pembelajaran yang telah dikaji oleh para pakar pendidikan ini, melahirkan teori-teori belajar yang berbeda ; diantaranya terdapat tiga teori belajar yaitu teori belajar behavirositik, teori belajar kognitif dan teori belajar konstruktivistik.

1. Teori belajar behavioristic
Pada teori ini belajar merupakan perubahan perilaku. Seorang dianggap belajar sesuatu jika ia telah mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Teori ini juga disebut dengan S-R (Stimulus-Respon). Dimana belajar diartikan sebagai respon siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru. Respon itu merupakan bentuk perilaku yang dianggap sebagai hasil belajar itu sendiri. Sedangkan stimulus merupakan upaya berupa rangsangan yang diberikan oleh guru terhadap peserta didik. Maka dengan demikian, kegiatan pembelajaran menurut teori ini adalah aktivitas pemberian stimulus dan respon terhadapnya.
Adapun pembahasan secara spesifik mengenai teori ini sudah saya tulis dengan ringkas pada tulisan berjudul “TEORI-TEORI BELAJAR ‘teori behavioristik’ ”

2. Teori belajar kognitif
Pada teori ini belajar merupakan terbentuknya pengetahuan dan pemahaman manusia yang dapat diamati dan diukur yang mana proses pembentukan pengetahuan tersebut sesuai dengan perkembangan pribadi manusia baik secara fisik maupun psikis dan kegiatan belajar terjadi sesuai dengan pola tahap-tahap perkembangan tertentu dan umur seseorang.
Seorang tokoh psikologi koginitif bernama piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat, yaitu a. Tahap sensorimotor (umur 0-2 tahun)

Kemampuan yang dimiliki ;

1. Melihat dirinya sendiri sebagai makhluk yang berbeda dengan objek sekitarnya

2. Mencari rangsangan melalui sinar lampu dan suara

3. Suka memperhatikan sesuatu lebih lama

4. Mendefinisikan sesuatu dengan memaniupulasinya

5. Memperhatikan objek sebagai hal yang tetap, lalu ingin merubah tempatnya

b. Tahap preoperasional (umur 2-7/8 tahun)
Kemampuan yang dimiliki ;

  1. Self counter nya sangat menonjol
  2. Dapat mengklasifikasikan objek pada tingkat dasar secara tunggal dan mencolok
  3. Tidak mampu memusatkan perhatian pada objek-objek yang berbeda
  4. Mampu mengumpulkan barang-barang menurut kriteria, termasuk kriteria yang benar
  5. Dapat menyusun benda-benda secara berderet, tetapi tidak dapat menjelaskan perbedaan antara deretan

c. Tahap operasional konkret (umur 7 atau 8-11 atau 12 tahun)
Anak telah memilki kecakapan berfikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret. Dan masih memiliki masalah mengenai berpikir abstrak

d. Tahap operasional formal (umur 11/12-18 tahun)
Kemampuan yang dimiliki ;

  1. Bekerja secara efektif dan sistematis
  2. Menganalisis secara kombinasi . misalnya C1 dan C2 menghasilkan R, anak dapat merumuskan beberapa kemungkinan
  3. Berfikir secara proporsional, yakni menentukan macam-macam proporsional tentang C1 dan C2, dan R misalnya.
  4. Piaget percaya bahwa sebagian remaja mencapai formal operations paling lambat pada usia 15 tahun. Tetapi berdasarkan penelitian maupun study selanjutnya menemukan behwa banyak siswa bahkan mahasiswa walaupun usianya telah melampaui, belum dapat melakukan formal-oprations.

Piaget beranggapan bahwa semakin tinggi tahap perkembangan kognitif seseorang, maka akan semakin teratur dan semakin abstrak cara berpikirnya.
Mengenai pendapat tokoh psikologi kognitif. Bruner memiliki perbedaan pendapat mengenai perkembangan kognitif seseorang, Bruner menyatakan bahwa perkembangan bahasa merupakan kunci perkembangan kognitif seseorang.

3. Teori belajar konstruktif Pada teori ini belajar merupakan mengkonstruksi pengetahuan. Maka kegiatan belajar dimaknai sebagai upaya membentuk pengetahuan dalam pribadi pelajar.
Hal ini dimaknai bahwa siswa itu menkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui aktivitas atau kegiatan yang dilakukannya. Aktivitas itu adalah mengamati objek yang dipelajari.
Teori ini menyatakan kegiatan belajar adalah aktivitas pembentukan pengetahuan melalui interaksi dengan objek kajian pengetahuan dan lingkungan.
Proses pembelajaran konstruktivistik memiliki ciri sebagai berikut ;

1. Kurikulum disajikan mulai dari keseluruhan menuju ke bagian-bagian, dan lebih mendekatkan pada konsep-konsep yang lebih luas

2. Pembelajaran lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide siswa

3. Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada sumber-sumber data primer dan manipulasi bahan

4. Siswa dipandang sebagai pemikir yang daoat memunculkan teori-teori tentang dirinya

5. Pengukuran proses dan hasil belajar siswa terjalin didalam kesatuan kegiatan pembelajaran, dengan cara guru mengamati hal-hal yang sedang dilakukan siswa, serta melalui tugas-tugas pekerjaan

6. Siswa-siswa banyak belajar dan bekerja dalam group process

Belajar dan Pembelajaran. Karya: Dr. C. Asri Budiningsih

TEORI-TEORI BELAJAR

A. Teori Behavioristik

Pada teori ini Belajar merupakan Bentuk perubahan siswa dalam hal kemampuan untuk bertingkah laku sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
Maka, Seorang dianggap belajar jika memiliki perubahan tingkah laku..

Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran ini adalah faktor penguatan (reinforcement)

Reinforcement

1. Positive reinforcement :

bila penguat ditambah maka respon akan semakin kuat

Contoh: ketika peserta didik di beri tugas oleh guru, ketika tugasnya ditambahkan maka ia akan semakin giat belajarnya

2. Negative reinforcement:

Bila penguat dikurangi maka respon akan tetap kuat

Contoh: bila tugas dikurangi dan pengurangan tugas ini justru meningkatkan aktivitas belajarnya

Pada contoh diatas pemberian tugas oleh guru kepada siswa merupakan bentuk penguat. Dan aktivitas belajar siswa merupakan bentuk tingkah laku siswa

JAMUAN MAKAN BAGI PEMBELAJAR

Al-Attas memandang al-quran sebagai undangan tuhan kepada manusia untuk menghadiri jamuan makan di atas muka bumi (mu’addabah Allah fil ardi), tempat kita mengambil bagian di dalamnya dengan cara mengetahuinya (fa ta’allamu min ma’dabatihi). Al-Attas menjelaskan : ” kitab al-quran adalah undangan tuhan kepada manusia untuk menghadiri jamuan kerohanian, dan cara memperoleh ilmu pengetahuan yang sebenarnya mengenai al-quran adalah dengan menikmati makanan-makanan lezat yang tersedia dalam jamuan kerohanian itu.

Al-quran sebagai undangan bagi jamuan makan kerohanian memiliki dua konsekuensi. pertama, untuk dapat menghadiri perjamuan itu dibutuhkan sejumlah metode. hanya yang pantas saja yang mendapat undangan bagi sebuah pesta perjamuan

Bambang Q-Anees, M.Ag dan Drs. Adang Hambali, M.Pd dalam buku “Pendidikan Karakter Berbasis Al-Quran”

KITA SEPERTI MEMPERSILAHKAN WAKTU UNTUK MENEBAS KITA

Kita sering mengatakan “masih ada waktu”. Ungkapan ini sering kita ucap ketika kita masih enggan memulai suatu pekerjaan. Seolah-olah kita begitu percaya bahwa hari esok adalah hari yang lebih efektif untuk memulainya. Waktu terus berjalan tanpa henti, ketika keesokan harinya, lagi-lagi kita mengatakan “masih ada waktu”, ya..kita sering begitu. Hingga kita lupa bahwa diluar sana begitu banyak orang yang sudah lama memulai pekerjaannya, tinggal lah kita yang ditebas oleh waktu, kita tertinggal, ya… barangkali kita akan selesai melakukannya, tapi, kita melakukannya dengan tergesa-gesa, karena pada saat itu kita baru sadar kita sedang di tebas waktu. Dan hasilnya tidak sebagus jika kita memulainya saat itu jua.
Kita pun mulai berandai-andai. “andai saja aku mulai melakukannya saat itu jua, mungkin hasilnya tidak sejelek ini. Andai saja aku mulai melakukannya saat itu jua, bisa jadi aku sudah seperti mereka yang selesai melakukannya, pasti aku juga akan seperti mereka yang memulai hal-hal yang baru. Sedangkan aku masih saja pada tahap ini”
Rasanya ungkapan “masih ada waktu” lebih layak digunakan jika kita sudah memulai sesuatu, namun kita gagal melakukannya. Ya…”masih ada waktu” untuk kembali memulainya, waktu esok adalah waktu memulainya kembali dengan memperbaiki kesalahan yang sudah kita evaluasi.
Lantas siapa yang salah? Waktu yang berlalu sangat cepat? Adakah waktu itu kejam hingga ia tebas diri kita? Waktu tak bisa disalahkan ia tetap berjalan tiada henti. Diri kita lah yang mempersilahkan waktu untuk menebas kita

Hakekat madrasah

Sekolah dalam bahasa arab adalah “المدرسة” Merupakan isim makan (tempat terjadinya suatu pekerjaan) dari fi’il درس. درس memiliki arti (menghilangkan bekas atau cacatnya (kebodohan)) .

oleh karena “المدرسة” Isim makan dari fi’il درس. Ini berarti “المدرسة” Memiliki makna “tempat untuk merealisasikan proses menghilangkan kecacatan tersebut (kebodohan) “.

Ini berarti المدرسة Bukan tempat untuk saling memamerkan kasta